Ketika janji sebelum transaksi tidak sesuai dengan pengalaman setelah pembelian, kepercayaan konsumen bisa berubah menjadi kekecewaan.Membeli mobil bukanlah keputusan kecil. Selain membutuhkan biaya yang besar, konsumen juga berharap mendapatkan keamanan, kenyamanan, dan pelayanan yang sebanding dengan uang yang dikeluarkan. Namun, bagaimana jika kendaraan yang dibeli justru menimbulkan masalah, sementara pelayanan setelah transaksi tidak sesuai dengan harapan? Pengalaman inilah yang menjadi sorotan dalam kasus Aa Juju, kreator konten yang mengeluhkan Hyundai IONIQ 5 miliknya di media sosial pada Agustus 2026.
Kasus ini menarik untuk dibahas bukan hanya karena melibatkan mobil listrik dan figur publik, tetapi juga karena memperlihatkan satu hal penting dalam perilaku konsumen: keputusan membeli produk tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas barang, tetapi juga oleh kepercayaan terhadap penjual dan pengalaman setelah pembelian.
Berawal dari Kebutuhan, Berujung pada Kekecewaan
Berdasarkan pemberitaan detikOto pada 20 Agustus 2026, Aa Juju mengaku membeli Hyundai IONIQ 5 secara tunai. Sebelum membeli, ia menyampaikan kebutuhan terkait kemampuan mobil untuk digunakan saat parkir paralel. Menurut pengakuannya, tenaga penjual meyakinkan bahwa mobil tersebut dapat memenuhi kebutuhan itu.
Namun, setelah mobil digunakan, ia mengeluhkan sejumlah kendala, mulai dari fitur pengisian daya cepat (fast charging) yang tidak berfungsi, kendaraan yang sempat tidak dapat dinyalakan akibat masalah baterai 12 volt, hingga gangguan pada head unit. Ia juga menyampaikan kekecewaannya terhadap komunikasi dan pelayanan purnajual yang diterimanya.
Keluhan tersebut kemudian ramai diperbincangkan setelah dibagikan melalui media sosial. Hyundai Indonesia menyampaikan permintaan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan dan menyatakan sedang melakukan penanganan serta penelusuran lebih lanjut.
Penting untuk dicatat bahwa sejumlah detail mengenai pengalaman pembelian dan pelayanan tersebut berasal dari keterangan Aa Juju yang diberitakan media. Keluhan itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh kendaraan dengan model yang sama memiliki masalah serupa.
Sumber: detikOto — Influencer Aa Juju Keluhkan Hyundai Ioniq 5 Bermasalah sampai Cekcok dengan Sales.
Konsumen Membeli Lebih dari Sekadar Produk
Dalam teori perilaku konsumen, keputusan pembelian dipengaruhi oleh kebutuhan, persepsi, pengalaman, serta informasi yang diterima sebelum transaksi. Kasus Aa Juju memperlihatkan bagaimana faktor-faktor tersebut saling berkaitan.
Pertama, kebutuhan konsumen menjadi dasar keputusan pembelian. Aa Juju mengaku mempertimbangkan kemampuan parkir paralel sebelum memilih kendaraan. Artinya, keputusan membeli tidak hanya berhubungan dengan merek atau desain, tetapi juga dengan kesesuaian produk terhadap kebutuhan sehari-hari.
Kedua, kepercayaan terhadap tenaga penjual memengaruhi keputusan. Konsumen tidak selalu memahami seluruh spesifikasi teknis suatu produk, terlebih untuk kendaraan listrik yang memiliki sistem dan fitur berbeda dari mobil konvensional. Karena itu, penjelasan tenaga penjual menjadi salah satu pertimbangan penting. Ketika informasi yang dipahami konsumen ternyata berbeda dari pengalaman penggunaan, kepercayaan tersebut dapat terganggu.
Ketiga, pengalaman setelah pembelian memengaruhi kepuasan. Konsumen tentu berharap produk yang dibeli berfungsi dengan baik. Namun, ketika muncul kendala, respons layanan purnajual menjadi bagian penting dari keseluruhan pengalaman konsumen. Produk yang memiliki teknologi canggih sekalipun dapat menimbulkan kekecewaan apabila konsumen merasa kesulitan memperoleh penjelasan atau bantuan.
Dari sini terlihat bahwa nilai suatu produk bagi konsumen tidak hanya ditentukan oleh spesifikasi dan harga, tetapi juga oleh kepastian informasi, kemudahan penggunaan, serta dukungan setelah transaksi.