Akuntansi, Bahasa Bisnis yang Perlu Dipahami Semua Pelaku Usaha.

Setiap hari, sebuah Pelaku Usaha melakukan banyak transaksi. Membeli persediaan, menjual barang, membayar listrik, hingga menerima setoran modal dari pemilik. Semua kejadian itu menghasilkan data. Namun, data tersebut baru berguna bagi pengambilan keputusan setelah dicatat dan diolah. Di sinilah akuntansi berperan.

Artikel ini disusun oleh Ceisya Cinta Laura, mahasiswa Universitas Pamulang, di bawah bimbingan Dr. Asep Muhammad Lutfi, S.E., M.M., C.STMI., B.KP. selaku dosen pembimbing.

Weygandt dan rekan-rekannya (2019) mendefinisikan akuntansi sebagai sistem informasi yang mengidentifikasi, mencatat, dan mengomunikasikan peristiwa ekonomi suatu organisasi kepada pihak yang berkepentingan. Informasi ini dipakai manajer dan pemilik untuk mengelola usaha, serta oleh investor dan kreditor untuk menilai kondisi keuangan perusahaan.

Sayangnya, pemahaman akuntansi dasar masih menjadi kendala di lapangan. Penelitian Rawun dan Tumilaar (2019) pada UMKM pesisir di Kecamatan Malalayang, Manado, menemukan bahwa tidak satu pun UMKM yang diteliti menyusun laporan keuangan. Syarli dan Sukri (2025) juga menemukan bahwa pelaku usaha roti di Kecamatan Mandau, Bengkalis, sudah mencatat keuangan, tetapi pencatatannya masih sederhana dan belum mengikuti standar SAK EMKM.

Mengapa Disebut Bahasa Bisnis?

Istilah bahasa bisnis sebenarnya adalah perumpamaan. Sebuah bahasa memiliki kosakata, aturan, dan pengguna. Akuntansi pun demikian.

Kosakatanya berupa istilah seperti aset, liabilitas, dan ekuitas. Aturannya berupa persamaan dasar akuntansi dan standar akuntansi. Penggunanya adalah manajer, pemilik, investor, kreditor, hingga regulator.

Standar akuntansi membuat pembaca laporan yang berbeda dapat memaknai angka dengan cara yang sama. Penelitian Barth dan rekan-rekannya (2008) terhadap perusahaan di 21 negara menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapkan standar akuntansi internasional umumnya memiliki kualitas angka akuntansi yang lebih baik, misalnya manajemen laba yang lebih rendah dan pengakuan rugi yang lebih tepat waktu.

Angka akuntansi juga dipakai pasar. Studi klasik Ball dan Brown (1968) menemukan bahwa angka laba akuntansi berkaitan dengan perubahan harga saham. Artinya, laporan keuangan bukan sekadar catatan, tetapi sumber informasi yang memengaruhi keputusan.

Lima Unsur Dasar Akuntansi

Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan dari International Accounting Standards Board (IASB), yang juga diadopsi Ikatan Akuntan Indonesia pada 2019, menyebut lima unsur laporan keuangan.

Pertama, aset, yaitu sumber daya ekonomi yang dikendalikan perusahaan, seperti kas, persediaan, dan peralatan. Kedua, liabilitas, yaitu kewajiban perusahaan, misalnya utang kepada pemasok. Ketiga, ekuitas, yaitu hak pemilik atas aset setelah dikurangi seluruh liabilitas.

Keempat, pendapatan, yang menambah ekuitas. Kelima, beban, yang mengurangi ekuitas. Perlu dicatat, uang yang diambil pemilik untuk keperluan pribadi bukan termasuk beban.

Tinggalkan Balasan