Conceptual Framework dalam Akuntansi

Setiap kali kita membaca laporan keuangan, kita sebenarnya sedang membaca hasil dari sebuah “bangunan berpikir” yang jarang terlihat, yaitu Conceptual Framework atau kerangka konseptual. Angka aset, liabilitas, pendapatan, hingga beban tidak muncul begitu saja. Semuanya dibentuk oleh seperangkat konsep yang menjadi dasar penyusunan standar akuntansi. Tanpa kerangka ini, standar akuntansi hanya akan menjadi kumpulan aturan yang berdiri sendiri-sendiri.

Dalam mata kuliah Teori Akuntansi, pembahasan topik ini diarahkan pada kemampuan memahami dan menjelaskan unsur-unsur Conceptual Framework, mengkritisi proses pembentukannya, serta menempatkan fungsinya dalam penyusunan standar akuntansi laporan keuangan. Ada dua kata kunci berbahasa Jerman yang menjadi pegangan. Verstehen berarti memahami makna konseptual unsur-unsur kerangka sebagai konstruksi pengetahuan akuntansi. Erklären berarti menjelaskan hubungan yang logis, sistematis, dan fungsional antarunsur kerangka beserta implikasinya bagi standard setting.

Artikel ini merangkum pembahasan tersebut dengan rujukan utama buku Wolk, Tearney, dan Dodd, lalu menambahkan dimensi ketiga, yaitu kritik. Di bagian akhir, kerangka konseptual juga dibaca melalui lensa filsafat Platon dan Aristotle.

Dari Mana Kerangka Konseptual FASB Berasal?

Bahan utama pembahasan ini adalah Bab 7 buku Wolk, Tearney, dan Dodd yang berjudul The FASB’s Conceptual Framework. Bab tersebut dibuka dengan sejumlah tujuan pembelajaran yang sekaligus memberi gambaran peta materinya

mengenali keterkaitan antara kerangka konseptual dan dokumen-dokumen yang dibahas pada bab sebelumnya;
memahami komponen-komponen kerangka konseptual;
memahami masalah trade-off yang dihadapi penyusun standar;
mengenali inkonsistensi antara tujuan kemampuan prediktif (predictive ability) dan akuntabilitas;
memahami konflik antara representational faithfulness dan konsekuensi ekonomi; serta
memandang kerangka konseptual dari sudut pandang kodifikasi.
Penulis buku juga mengingatkan dua hal. Pertama, kerangka konseptual dapat dipandang sebagai dokumen evolusioner yang banyak bersandar pada karya-karya seperti ASOBAT dan SATTA. Kedua, walaupun banyak kritik dapat dan akan diarahkan kepadanya, dokumen ini masih bisa diperbaiki agar menjadi landasan yang kokoh bagi standar akuntansi di masa depan. Dua catatan ini menjelaskan mengapa mempelajari kerangka konseptual tidak cukup berhenti pada menghafal isinya. Kita juga perlu mengujinya secara kritis.

Kerangka konseptual FASB terdiri dari tujuh bagian yang masing-masing disebut Statements of Financial Accounting Concepts (SFAC). SFAC No. 1 tentang tujuan pelaporan keuangan perusahaan bisnis terbit pada 1978. SFAC No. 2 tentang karakteristik kualitatif informasi akuntansi dan SFAC No. 3 tentang unsur laporan keuangan terbit pada 1980, tahun yang sama dengan SFAC No. 4 yang membahas tujuan pelaporan keuangan organisasi nirlaba. Setelah itu hadir SFAC No. 5 tentang pengakuan dan pengukuran (1984), SFAC No. 6 tentang unsur laporan keuangan (1985) yang menggantikan SFAC No. 3, dan SFAC No. 7 tentang penggunaan informasi arus kas dan nilai sekarang dalam pengukuran akuntansi (2000).

Menurut buku tersebut, kerangka konseptual dimaksudkan untuk mewujudkan sistem yang koheren, yaitu tujuan dan dasar-dasar yang saling berkaitan, yang dapat mengarah pada standar yang konsisten serta menetapkan sifat, fungsi, dan batas akuntansi keuangan dan laporan keuangan. Dengan kata lain, kerangka konseptual adalah upaya menyediakan struktur metateoretis bagi akuntansi keuangan.

Tinggalkan Balasan