Mengapa Empat Garis Bisa Berujung di Pengadilan? Sengketa Adidas&White Fox

Mengapa Empat Garis Bisa Berujung di Pengadilan? Sengketa Adidas dan White Fox serta Pelajarannya bagi Industri Kreatif Indonesia
Dalam dunia fesyen, masalah besar tidak selalu berawal dari sesuatu yang rumit. Terkadang, hanya beberapa garis pada pakaian bisa memicu sengketa hukum bernilai besar. Garis yang sekilas terlihat sederhana ternyata bisa menjadi identitas sebuah merek, sesuatu yang dibangun selama bertahun-tahun dan tentu tidak mudah dilepaskan begitu saja. Hal inilah yang terlihat dalam perselisihan antara Adidas, perusahaan perlengkapan olahraga asal Jerman, dan White Fox, merek fesyen asal Australia.

Kasus ini bukan sekadar soal berapa banyak garis yang boleh dicantumkan pada pakaian. Lebih dari itu, sengketa tersebut memperlihatkan betapa pentingnya perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dalam industri fesyen. Bagi pelaku usaha muda di Indonesia, termasuk desainer, kreator, serta generasi Gen Z dan Gen Alpha yang mulai merintis bisnis sendiri, perkara ini juga bisa menjadi pengingat bahwa membangun merek bukan hanya soal membuat produk yang menarik. Ada identitas, reputasi, dan hak hukum yang perlu diperhatikan sejak awal.

  1. Bagaimana Sengketa Adidas dan White Fox Bermula?
    Persoalan yang Memicu Gugatan
    Adidas menggugat White Fox di Pengadilan Federal Australia setelah menemukan sejumlah produk pakaian olahraga dan pakaian santai yang menggunakan desain empat garis paralel. Adidas menilai desain tersebut memiliki kemiripan dengan identitas visual Three Stripes atau Tiga Garis, yang telah terdaftar sebagai merek dagang di Australia sejak 1957.

Bagi Adidas, garis-garis tersebut bukan sekadar hiasan. Desain itu sudah lama melekat pada identitas perusahaan dan menjadi salah satu ciri yang mudah dikenali konsumen. Karena itulah, kemunculan pola serupa pada produk merek lain menjadi persoalan yang dianggap serius.

Ketika Upaya Penyelesaian Tidak Membuahkan Hasil
Perselisihan ini sebenarnya tidak langsung dibawa ke pengadilan. Berdasarkan dokumen gugatan, Adidas telah menghubungi White Fox beberapa kali sejak Maret 2025. Perusahaan tersebut meminta White Fox menghentikan penjualan dan promosi produk yang dinilai menggunakan desain bermasalah.

Namun, upaya itu tidak menghasilkan penyelesaian yang diharapkan Adidas. Sengketa pun berlanjut ke jalur hukum. Dalam gugatannya, Adidas menuntut pengembalian keuntungan dari penjualan produk yang dipersoalkan, beserta bunga dan biaya perkara.

Pertumbuhan White Fox yang Tidak Kecil
White Fox didirikan oleh Georgia dan Daniel Contos pada 2013. Sejak saat itu, merek ini berkembang pesat, terutama dengan menyasar konsumen muda yang akrab dengan tren fesyen dan media sosial. Hingga Juni 2025, pendapatannya disebut mencapai AU$542 juta.

Salah satu strategi yang mendorong pertumbuhannya adalah pemasaran yang agresif. White Fox memanfaatkan influencer, papan reklame, dan iklan di transportasi publik untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Gen Z menjadi salah satu kelompok konsumen yang penting bagi merek ini.

Besarnya skala bisnis tersebut membuat sengketa ini semakin menarik untuk dicermati. Ketika sebuah merek tumbuh pesat, keputusan mengenai desain dan pemasaran produk bukan lagi sekadar urusan kreatif. Keputusan itu juga bisa membawa konsekuensi hukum dan finansial.

Bukti yang Disorot Adidas
Dalam persidangan, Adidas menunjukkan sejumlah perbandingan produk, termasuk celana olahraga, celana pendek, dan kaus kaki. Perbandingan ini digunakan untuk mendukung klaim bahwa desain yang dipakai White Fox memiliki kemiripan dengan elemen visual khas Adidas.

Salah satu materi yang mendapat perhatian adalah iklan online White Fox pada Juni 2025. Iklan tersebut menampilkan kaus kaki dengan empat garis yang dipadukan dengan sepatu Adidas berwarna merah muda.

Adidas menilai penempatan kedua produk itu berpotensi menimbulkan asosiasi di benak konsumen. Menurut argumen perusahaan tersebut, penggunaan produk Adidas dalam materi promosi White Fox bukanlah persoalan sepele karena bisa membuat konsumen menghubungkan kedua merek tersebut.

Hal lain yang turut disorot adalah perubahan pada materi promosi setelah gugatan diajukan. Beberapa hari setelahnya, gambar sepatu Adidas dalam iklan tersebut dilaporkan telah diedit secara digital sehingga garis khasnya tidak lagi terlihat.

White Fox Punya Pandangan Berbeda
White Fox membantah tuduhan pelanggaran merek dagang yang diajukan Adidas. Dalam pembelaannya, tim hukum perusahaan tersebut menyebut bahwa penggunaan garis dekoratif bukanlah hal yang eksklusif bagi Adidas.

Tinggalkan Balasan